Sensasi Bermalam dan Outbond di Terminal Wisata Grafika Cikole


Sensasi Bermalam dan Outbond di Terminal Wisata Grafika Cikole - Libur panjang tiba. Pasti banyak yang pulang kampung alias mudik. Saya dan keluarga besar biasanya mudik menggunakan kendaraan roda dua (konvoi happy). Tapi lebaran puasa tahun ini tidak ada rencana pulang kampung dan memilih liburan di Bandung.

Sedih dunk nggak mudik?

Nggak sedih kok. Nggak mudik juga tetap asik, karena di Bandung banyak tempat kece buat liburan. Terutama di kawasan Lembang. Banyak destinasi wisata yang bisa dijadikan tujuan berlibur bersama keluarga. Salah satu destinasi wisata pilihan saya adalah Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC) yang beralamat di Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Terminal Wisata Grafika Cikole adalah tempat rekreasi yang memadukan wisata hutan pinus dengan wahana outbond, penginapan, dan restoran. Lokasinya juga sangat strategis karena berada di pinggir Jalan Raya Tangkuban Parahu yang menghubungkan Lembang dan Subang.

Pengunjung Grafika Cikole bisa menikmati pemandangan indah dan sejuknya udara hutan pinus di kaki Gunung Tangkuban Parahu. Selain itu bisa juga menjajal aneka wahana outbond seperti zip coaster, flying fox, jembatan tali dua, jembatan borma, turun tebing, jaring laba-laba, wisata naik kuda, ATV, wisata rumah pohon, penangkaran rusa, dan kebun strawberry.

Masih kurang lengkap kalau rekreasi nggak sambil kulineran. Di Grafika Cikole tersedia restoran, saung lesehan, dan pendopo yang menyediakan aneka kuliner lezat. Banyak pilihan menu makanan yang bisa kamu pesan sesuai selera seperti nasi tutug oncom, nasi liwet, nasi bakar, nasi timbel, sop buntut, sop iga, sayur asem, cah kangkung, karedok, tongseng, dan capcay.

Area urban camp TWGC
Area urban camp TWGC

Pengalaman Menginap di Urban Camp Terminal Wisata Grafika Cikole

Nah, buat kamu yang dari luar kota nggak perlu bingung mencari tempat menginap karena di Grafika Cikole disediakan penginapan berkonsep glamping (glamour camping). Cocok banget buat kamu yang ingin kemping tapi nggak mau ribet bawa tenda sendiri. Tinggal datang ke lokasi, cukup membawa pakaian ganti dan uang buat bekal menginap.

Ada beberapa tipe penginapan dengan fasilitas berbeda di Terminal Wisata Grafika Cikole, di antaranya rumah panggung, pondok wisata alam, tenda dome, dan urban camp. Kebetulan banget saya kebagian penginapan tipe urban camp.

Urban camp merupakan penginapan terbaik di TWGC. Lokasinya pun berada di area bukit paling tinggi. Berada di antara pohon pinus yang menjulang tinggi dan hamparan rumput hijau membuat pondok ini terasa sejuk. Di depan camp terdapat taman yang dihiasi bunga warna-warni, cocok banget buat ngadem dan berfoto.

Dua buah kasur berukuran besar
Dua buah kasur berukuran besar
Saat pertama masuk kamar urban camp saya sempat tercengang karena fasilitas di dalamnya nggak kalah sama hotel berbintang. Tempat kemping mewah ini memiliki dua buah kasur ukuran besar (double bed) muat untuk empat orang. Bagian lantai menggunakan anyaman bambu hitam (bilik bambu), nuansa pedesaannya dapet banget.

Dinding kamar terbuat dari tripleks dan bagian depan menggunakan kaca berukuran besar berbingkai aluminium. Untuk tidak menghilangkan kesan kempingnya, bagian atap menggunakan tenda putih berbentuk kerucut.

Dari dalam kamar bisa melihat pemandangan di luar. Kalau mau nongkrong, bisa duduk di teras, sudah disediakan empat buah kursi lipat.

Fasilitas kamar urban camp TWGC
Fasilitas kamar urban camp TWGC
Fasilitas lainnya juga nggak kalah lengkap seperti lemari dua pintu berukuran besar, meja kerja,  kursi lipat, televisi, teko pemanas air, sandal, payung, dan kamar mandi berukuran besar lengkap dengan pemanas air (water heater). Sudah disediakan juga perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, sikat gigi + pasta gigi. Jadi, kalau kamu mau nginap di urban camp nggak usah membawa perlengkapan mandi, tinggal datang dan check in.

O iya, setiap pengunjung yang check in di urban camp akan dapat voucher breakfast dan jagung bakar. Tapi karena saya check in saat bulan puasa, voucher sarapannya diganti sama makan sahur. Nah, untuk voucher jagung bakar bisa ditukar menjelang malam, tepatnya mulai pukul 7 malam.

Air mineral, bandrek, dan teh
Air mineral, bandrek, dan teh
Menjelang malam udara di sekitar penginapan terasa dingin banget. Jaket seakan tak mampu melindungi tubuh dari hawa dingin. Untungnya di meja disediakan bandrek dan teh, lumayan bisa menghangatkan badan.

Saya nggak mau larut dan beku dalam kesendirian, eh... dalam dinginnya malam hutan pinus Cikole. Tubuh ini butuh kehangatan, eaaaaa..., jangan mikir negatif dulu. Ada yang bikin tubuh ini anget dari dalam, yaitu sop iga dan sop buntut di saung lesehan. Yupz saya pilih menu makannya sop iga dan kentang goreng. Kuah sop yang panas bisa bikin anget perut. Minumannya juga ada yang panas seperti bandrek, kopi, dan teh.

Suasana malam di TWGC
Suasana malam di TWGC

Udara dingin memang bikin perut selalu lapar. Usai makan malam, dilanjut dengan jagung bakar (lumayan gratisan pake voucher) di pendopo. Kudu jalan kaki dari saung lesehan ke pendopo. Lumayan nanjak dan bikin ngos-ngosan. Sebenarnya tidak hanya jugung bakar, voucher-nya bisa juga ditukar sama jasuke (jagung susu keju) dan jagung rebus.

Menikmati api unggun sambil makan jagung bakar
Menikmati api unggun sambil makan jagung bakar
Biar endeus, makan jagung bakarnya di area api unggun. Nah, api unggun ini merupakan fasilitas bersama penghuni urban camp. Kebetulan ada teman yang bawa gitar. Tapi saya nggak nyanyi karena suara saya fals. Jangankan nyanyi, batuk saja udah fals hehehe. Biarkan mereka yang berdendang, dan saya hanya jadi tukang masukin kayu bakar biar apinya nggak mati.

Malam semakin larut dan mata pun butuh istirahat. Saya dan teman masuk ke camp. Tenyata kasur dan selimut juga dingin, AC alaminya nggak bisa dikecilin. Akhirnya tidur pakai jaket dan kaos kaki. Lelap dan larut dalam dinginnya malam yang sepi, sampe saya lupa mimpi hehe.

Iya lelap banget, tau-tau ada yang ngetuk pintu bangunin sahur. Hidangan makan sahurnya diantar ke kamar. Menu makan sahurnya nggak bisa milih, sudah paketan yang isinya nasi, gepuk, dan capcay. Minumnya dikasih pilihan antara teh manis sama kopi. Saya pilih teh manis karena nggak terlalu suka kopi.

Wahana zip coaster Terminal Wisata Grafika Cikole
Wahana zip coaster Terminal Wisata Grafika Cikole
Pic by : Bang Aswi

Outbond Terminal Wisata Grafika Cikole

Usai makan sahur dan shalat Subuh dilanjut tidur lagi, siapa tau bisa mimpi indah ketemu sama dia.  Tapi ternyata belum beruntung, saya nggak mimpi apa-apa.

Buat kamu yang ingin olahraga pagi bisa ikutan jungle track, keliling hutan pinus. Lumayan jauh dan bisa bikin keluar keringat.

Menjelang siang saya diajak teman-teman buat nyobain wahana outbond Terminal Wisata Grafika Cikole. Sesuai kesepakatan kami pilih wahana zip coaster, flying fox, ngasih makan rusa dan burung. Sebenarnya saya hanya tertarik sama zip coaster, tapi biar seru ikut semuanya saja.


Zip coaster memang wahana paling seru, mirip sama roll coaster. Cuma bedanya kita nggak duduk, melainkan gelantungan sambil pegang stang. Karena baru kali ini nyobain wahana ini, saya sedikit deg-degan.

Sebenarnya yang bikin tegang cuma awalnya saja saat mau mulai. Setelah jalan sekitar dua meter mulai bisa merasakan sensasi gelantungan di atas ketinggian. Kita bebas berteriak untuk melepaskan rasa takut sambil meluncur di ketinggian dengan lintasan pipa yang berkelok sepanjang 270 meter.

Buat saya zip coaster ini adalah wahana yang paling menyenangkan dan sangat berkesan. Saking asiknya saya sampai tiga kali main wahana ini. Kamu wajib nyoba dech, biar tahu rasanya bergelantungan dan berayun di ketinggian.

Penangkaran rusa TWGC
Penangkaran rusa TWGC
Lumayan lelah juga bolak-balik nyoba zip coaster, ngadem dulu sambil ngasih makan rusa dan burung. Buat ngasih makan rusa atau burung, kita bisa beli pakan di booth khusus. Murah kok, pakan rusa atau burung cuma dibandrol 5 ribu rupiah.

Masuk penangkaran rusa langsung diserbu segerombol rusa yang kelaparan. Awalnya sich takut, tapi ternyata mereka jinak dan manja. Ada yang gelendotan minta dielus, ada juga yang maksa minta makan. Di dalam penangkaran rusa juga ada kandang domba, entah domba jenis apaan, tapi kata Koh Agung, itu domba sejenis shaun the sheep.

Interaksi dengan burung di bird park TWGC
Interaksi dengan burung di bird park TWGC
Begitu pula saat masuk area bird park, saya langsung diserbu segerombol burung yang kelaparan. Ada banyak jenis burung di dalam kandang raksasa ini, di antaranya burung maccaw, burung warna warni, dan kakatua.

Selain ngasih makan, kita juga bisa berfoto dengan burung. Saya selfie-nya sama burung kecil biar aman dari cengkraman kukunya yang tajam hehe..., perawatan kulit mahal bro.

Flying fox TWGC
Flying fox TWGC
Di sisa tenaga masih ingin mencoba wahana ekstrem lainnya. Pilihan terakhir adalah wahana outbond flying fox. Di sini saya bisa merasakan sensasi bergelantungan dan meluncur di atas ketinggian 25 meter dengan lintasan kawat baja sepanjang 125 meter. Tingginya sich cukup, tapi buat saya lintasannya terlalu pendek. Jadi kurang dapet gregetnya. Tapi, ada lebihnya juga karena ada dua lintasan. Jadi kita bisa bolak balik naik wahana ini.


Sebenarnya masih banyak wahana outbond yang bisa dicoba, namun apa daya tubuh sudah mulai letih. Kapan-kapan bisa dilanjut lagi, mendingan nyari tempat buat foto-foto. Di area masuk tempat kemping banyak spot foto kece. Pengunjung bisa berfoto dengan latar yang instagramable.

Untuk lihat video perjalanan saya menuju lokasi Terminal Wisata Grafika Cikole silakan klik video di bawah ini.


Alamat Terminal Wisata Grafika Cikole :
Jalan Tangkuban Parahu KM.8, Desa Cikole,
Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tarif penginapan urban camp dan tiket wahana outbond
Urban camp/malam: Rp 1.400.000.-
Flying fox PP: Rp 50.000.-
Zip coaster: Rp 50.000.-
Bird park: Rp 20.000.-


Baca juga Iga Bakar Merapi, Kuliner Unik dan Pedas di Dago Atas

Terimakasih atas kunjungannya